Peluang dan Tantangan Caleg Muda pada Pemilu 2019

oleh
H. Safrudin Dwi Apriyanto, SPd. (Politisi PKS Jambi dan Wakil Bupati Bungo)
H. Safrudin Dwi Apriyanto, SPd. (Politisi PKS Jambi dan Wakil Bupati Bungo)

Ditulis oleh: H. Safrudin Dwi Apriyanto, SPd. (Politisi PKS Jambi dan Wakil Bupati Bungo)

Bungo (12/11) — Tahun politik 2018 sudah di depan mata. Oktober 2017 ini saja, semua partai fokus melengkapi bahan verifikasi parpol peserta Pemilu 2019. Segenap energi bangsa ini akan mulai tercurah untuk menyongsong hajat demokrasi elektoral (Pemilu) 2019.

Namun ada problem substantif sepanjang tiga pemilu terakhir. Problem tersebut secara umum adalah belum mampu menghasilkan wakil rakyat dan pemimpin yang kredibel dan berkualitas. Akhirnya, lembaga-lembaga negara yang terbentuk dari hasil pemilu pun belum maksimal menjamin rasa keamanan, keadilan dan kesejahteraan.

Publik kini terlanjur apatis bahkan alergi dengan partai politik. Isu perubahan yang bergulir pada Pemilu 2014 lalu ternyata tidak terlalu terbukti. Skeptisme terhadap parpol dan calon-calon anggota legislatif (caleg) juga dapat berpotensi menyebabkan tingkat partisipasi dalam Pemilu 2019 menurun. Terutama di kalangan pemilih pemula, dorongan untuk memberi suara tampaknya menjadi kurang menarik.

Preferensi pemilih pemula 2019 nanti akan mengarah kepada caleg-caleg muda. Survey lembaga Transparency International Indonesia (TII) tahun 2014 menunjukkan bahwa pemilih pemula yang jumlahnya di atas 30% itu cenderung memilih caleg muda untuk mewakili aspirasinya di legislatif.

Partai perlu mendorong pemuda yang berkualitas dan berintegritas untuk maju dan bertarung dalam pemilu legislatif tahun 2019. Harapannya, terjadi regenerasi kepemimpinan serta mampu membawa perubahan bagi kesejahteraan masyarakat serta mampu merubah iklim demokrasi di tanah air menjadi lebih baik.

Caleg muda dinilai parpol mempunyai visi dan misi ideal untuk melakukan perubahan dan menawarkan masa depan Indonesia yang lebih baik. Di samping ini juga merupakan strategi parpol untuk menjaring suara pemilih muda dan menaikkan elektabilitas partai, maka parpol juga harus legowo mengusung caleg usia muda.

Keberadaan caleg muda justru menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menentukan pilihan. Caleg muda dianggap lebih punya idealisme, jauh dari politik uang, rekam jejak relatif bersih, walaupun masih minim keahlian dan kualitas. Caleg senior di Pemilu 2019 harus berani bersaing dengan yang muda-muda.

Untuk memperbaiki parlemen yang telah memiliki citra buruk di masyarakat karena banyak anggotanya terkena kasus korupsi, maka parlemen juga perlu melakukan regenerasi. Agar tidak terkontaminasi, maka anak-anak muda harus menjadi mayoritas dalam parlemen.

Regenerasi adalah suatu keniscayaan. Bagi mereka yang muda dan punya integritas, perlu diberikan kesempatan lebih banyak untuk berkiprah. Ketimbang mereka yang sudah terkena kasus dan tidak bertanggung jawab terhadap amanah yang telah diberikan.

Selain persoalan caleg muda, parpol peserta pemilu juga perlu melakukan pola komunikasi yang mudah diterima oleh anak-anak muda sehingga bisa menarik simpati mereka untuk memilih di Pemilu 2019. Program-program partai harus mampu diterjemahkan dengan bahasa yang lebih sederhana. Kita tidak mau kan, anak-anak muda banyak yang golput saat Pemilu 2019 mendatang?

Pemilu 2019 diharapkan menjadi momentum, terutama bagi calon legislatif (caleg) muda, untuk membuktikan bahwa melalui partai politik mereka bisa menjadi agen perubahan. Caleg-caleg muda harus mampu menjawab kelemahan-parlemen parlemen periode sebelumnya. Seperti, target proglegnas/proglegda tdk boleh lagi meleset. Kepercayaan publik adalah sumber legitimasi lembaga wakil rakyat. Bila kepercayaan pudar, legitimasi pun ikut pudar.

Publik saat ini sinis dengan partai politik dan merindukan perubahan. Harapan inilah yang harus dijawab oleh caleg-caleg muda dengan memberi warna lain di parlemen. Anak-anak muda harus diberi kesempatan untuk meneruskan tongkat estafeta sejarah.

Mampukah caleg-caleg muda Pemilu 2019 nanti memanfaatkan peluang dan menerima tantangan ini? Kita tunggu saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.